Welcome To Kampung Inggris

Ingin pandai berbahasa Inggris dengan cepat dan biaya murah? maka datanglah ke kecamatan Pare - kabupaten Kediri. Di Pare, tersedia ratusan lembaga kursus bahasa Inggris yang berkualitas. Dijamin, dalam 3 bulan sudah cas cis cus berbahasa Inggris.
“Hello guys, how’s life?”
“Everything is running good. And you?”
“Fine.”

Itulah percakapan yang terjadi antara seorang gadis remaja dan teman-temannya di sebuah warung sederhana di Desa Tulungrejo Kecamatan Pare, sekitar 20 Km dari Kota Kediri. Jangan heran jika di desa itu menemui anak-anak ber-cas-cis-cus dalam bahasa Inggris. Entah itu di warung atau tempat nongkrong anak-anak muda. Mulai percakapan dengan topik serius, sampai banyolan, semua dilafalkan dalam bahasa Inggris.

Tentu saja tak semua bisa bicara Inggris dengan lancar. Maklum, baru belajar. Selain kosakatanya masih minim, pengucapannya juga terkesan belepotan. Tapi semangat mereka untuk bisa berbicara dalam bahasa internasional itu, luar biasa men-cengangkan. Itu pula sebabnya dua desa di Kabupaten Pare itu, Desa Tulungrejo dan Pelem, dijuluki “Kampung Inggris”.
Selamat datang di Kampung Inggris
Selamat Datang di Kampung Inggris


Daerah Asal Siswa Kampung Inggris

Tak semua penduduk Kampung Inggris adalah penduduk asli, karena banyak juga pendatang yang sengaja “mondok” di sana demi belajar bahasa Inggris. Di dua desa itu, terdapat 150-an lembaga kursus bahasa Inggris. Mulai dari yang besar sampai kecil. Para siswa datang dari berbagai pelosok Indonesia seperti Papua, NTT, bahkan Timor Leste. Sudah lama Kampung Inggris Pare jadi rujukan banyak orang untuk mendalami bahasa Inggris. Siswa yang datang mulai dari jebolan SMU hingga lulusan pascasarjana yang ingin meraih gelar doktor. ”Ada juga yang ingin memperlancar percakapan sebagai bekal kerja di luar negeri.”

Lembaga-lembaga kursus di Kampung Inggris, selain diajari tata bahasa, struktur, “Yang penting adalah percakapan. Banyak yang pintar bahasa asing tapi kurang dalam soal percakapan. Makanya, kebanyakan yang datang ke sini ingin bisa berkomunikasi lancar”. Tak heran jika sehari-hari, siswa diharuskan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Bahkan, jika sudah memasuki kursus bulan kedua siswa yang tidak menggunakan bahasa Inggris di lingkungan camp (asrama) akan memperoleh sanksi berat hingga dikeluarkan dari camp. Soal gagap atau belepotan, “Tak masalah. Toh, para pengajar akan menuntun mereka.”

Kursus di Kampung Inggris Murah dan Cepat Bisa

Murah dan cepat bisa adalah alasan lain orang berbondong-bondong menuntut ilmu bahasa Inggris di Pare, sudah banyak bukti setelah belajar di Pare, akan meningkatkan rasa  percya diri siswa untuk bicara Inggris. Untuk jadwal belajar sehari satu hingga lima kali, biayanya hanya Rp 60 ribu sampai Rp 250 Ribu. ”Kalau di tempat lain, pasti jutaan rupiah”. Mengingat pelajar kebanyakan datang dari luar daerah maupun pulau, disediakan pula sarana pondokan atau kos yang populer disebut camp. Untuk tarif kursus plus camp, Rp 300 Ribu sampai 550 Ribu per bulan. “Kalau hanya kursus, cuma Rp 60 ribu sampai Rp 250 Ribu. Keunggulan tinggal di camp adalah belajarnya bisa lebih intensif lagi. Selain lima kali belajar, selama berada di sini, dilarang menggunakan bahasa selain Inggris. Makanya, cukup tiga bulan di sini, hampir pasti sudah bisa berkomunikasi lancar”.

Dengan biaya semurah itu, ya, jangan bayangkan tempat mewah, sejuk, serta wangi. Meski ada tempat kursus yang menyediakan bangku, tak jarang ketika kursus hanya lesehan di atas tikar sederhana dengan papan tulis. Pakaian para siswa pun seadanya. “Kami tidak mengutamakan penampilan, yang penting kualitas,” ujar pengelolah lembaga kursus.

Patokan tiga bulan sudah bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris, dirasakan Fitri (17), Feny (18), dan Yusri (19). “Sistem pengajarannya bikin kami cepat bisa. Tiap hari dicekoki dan harus bicara dalam bahasa Inggris, ya, lama-lama bisa. Sekarang saya sudah pede kalau bicara,” ujar Yusri, gadis dari Pelambang. Sementara Feny dan Fitri berencana menjadi pengajar bahasa Inggris. “Kalau lulus tes, kami bisa jadi guru bantu di pondok-pondok pesantren.”

Sedangkan Opi Yawulan (22), mahasiswa semester empat dari PTN di Bandung Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, sengaja cuti dari kampusnya selama satu semester untuk belajar di salah satu lembaga kursus di sana. “Alhamdulillah saya menemukan tempat ini. Meski saya kuliah di Sastra Inggris, di sini jauh lebih bagus teknik pengajarannya ketimbang di kampus. Di sini, struktur bahasa itu dipreteli satu persatu sampai kita benar-benar paham,” kata Opi yang membayar tak lebih dari Rp 500 ribu per bulan untuk biaya kursus plus pondokan. “Padahal, tempat kos saya untuk ukuran di sini sudah paling mewah.”

Bagiamana? Anda tertarik? jika belum coba saja dulu, dijamin Anda akan menyukainya, karena ratusan ribu orang telah membuktikannya. Cara untuk menuju Kampung Inggris bisa baca dulu infonya disini: Rute Transportasi Ke Kampung Inggris, agar tidak nyasar.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »